Review Au Revoir zine #1 – #3 yang Bikin Mimisan Permata Berjam-Jam

Sister Ming, i couldn’t say more but the fact that you’re truly amazingly an freakin awesome bestfriend and my favorite writer, zine-maker, ever. Thanks a lot. I will remember this day.

 

Repost from : http://bandungzinefest.blogspot.com/2014/07/au-revoir-zine-1-3.html

Kamis, 03 Juli 2014

AU REVOIR ZINE #1-3

Pembuat: Annisa Rizkiana Rahmasari
Kontak: wildrps@yahoo.com
Twitter: @wildrps
HP: 08562770608

*DISCLAIMER: Konten tulisan ini hanya memuat 41% review zine, sisanya adalah curahan hati si reviewer yang dipicu oleh desakan deadline kerjaan dan substansi kimia sebesar 5mg yang konon membuat pengonsumsinya mudah tersulut amarah. Jadi, jangan salahkan si reviewer. Salahkan para penjual substansi kimia berbahaya tersebut. Seluruh saran, masukan, kritik, antitesis, kontra-wacana, komplain, makian, ejekan, atau apapun mengenai tulisan ini mohon untuk tidak dialamatkan ke Perpus Zine Bandung. Silahkan hubungi si reviewer di mana pun dia berada—itu pun jika berhasil menemukannya. Jikalau tidak berhasil menemukan, silahkan buang segala keluhan anda di WC terdekat*

Avant-Propos yang Kepanjangan

“Aku membenci pembaca dan penulis. Aku lebih menyukai penulis yang menulis dengan darahnya” – Fred.

Biar gaya sedikit, dan sesuai dengan tradisi menulis para penulis skena zine yang dianggap keren, saya mulai tulisan ini dengan quote di atas. *pasang kacamata hitam*

Rasanya udah lama, lama banget saya nggak pernah sungguh-sungguh nyimak zine baru yang berserakan di sana-sini. Bukan apa-apa, menurut saya nggak ada zine baru yang sanggup menarik saya untuk menelisik lebih jauh—kecuali zine yang banyak gambar orang bugilnya. Eh, itu mah hentai ya. Sori, sori, ketuker. Ya kalo mau jujur sih, memang sekarang-sekarang ini sedang nggak ada hal menarik apapun buat saya yang udah pengangguran ini selain film horror, action, perang-perangan, barter bokep, jual beli apa yang bisa dijual dan dibeli demi urusan perut tanpa harus jadi zombie 9-5 (rule #1: survive, bro!), buku-buku tebal dengan konten serius (misalnya: “Cult Horror Films”, cukup serius bukan?) untuk bahan gaya-gayaan, dan terutama, eksplorasi berbagai jenis substansi mabuk—mulai dari 5% hingga 80%, mulai dari 1mg hingga 5mg. Kalopun sekarang saya ujug-ujug menulis, bukannya tanpa sebab. Dalam rangka memperingati international zine month yang memicu komitmen senang-senang Perpus Zine Bandung untuk menghadirkan 1 review zine per hari selama bulan Juli ini—setelah mendapati baru-baru ini gelaran international skate day, tak lupa hari buruh internasional setiap 1 Mei yang begitu familiar bagi kita, saya berandai-andai, mungkinkah bakal ada hari bokep internasional, yang pasti akan saya rayakan dengan senang hati—saya pun ingin menumpang eksistensi dengan menulis.

Kembali ke zine, fenomena menarik yang saya amati salah duanya adalah serbuan zine lucu-lucuan yang kurang berani terlalu serius dengan leluconnya—rasanya mereka patut malu dengan Joker yang leluconnya aja bisa ngeledakin rumah sakit—dan zine-zine yang dengan bangga memproklamirkan diri sebagai zine hipster. Saya nggak punya masalah dengan yang beginian, sejak saya sendiri pun bisa dikategorikan dalam spesies bernama hipster ini. Masalahnya, mereka melulu bermain-main dengan ironi. Lagi-lagi repetisi, hanya kemasannya aja yang berbeda, isi tetaplah repetisi. Ironi lagi, ironi lagi. Di mana ada repetisi, di situ ada kebosanan. Tidakkah kalian mengasihani kami yang sudah menderita kebosanan kronis ini? Malahan, menurut saya, hipster bukanlah lagi istilah tabu. Justru para hipster wajib menunjukkan kebanggaan mereka sebagai hipster—mengingat untuk jadi hipster tidaklah mudah, dibutuhkan skill adaptasi tingkat tinggi terhadap tren-tren coolness baru dan menyerap cepat ribuan informasi level permukaan dalam waktu singkat yang tidak perlu ditindaklanjuti dengan pendalaman, kontemplasi, apalagi sikap—dengan mengagendakan aktifitas hore-horean yang lebih inspiratif dan memperkaya khazanah pengetahuan anak bangsa, nggak melulu mentok indie-indie-an, atau musik-musik-an, atau ledek-ledek-an semisal meledek golongan tertentu yang dirasa eksklusif, atau grup ajaib yang saya nggak terlalu kenal macam JKT48. Saya tinggal di Bandung, hello? Contoh paling dekat, gelaran gegap gempita yang sebentar lagi akan diadakan Aliansi Hipster Bandung: diskusi black metal dari dua perspektif yang berbeda kutub dengan referensi yang juga seratus delapan puluh derajat berbeda. Sangat menarik. *SALAM PAGAN!*

Lalu giliran saya menemukan varian yang bisa dibilang cukup serius, astaga, saya menemukan pula semakin banyak kebingungan. Kebingungan ini bermula dari tulisan-tulisan bagus yang bertebaran di mana-mana. Sayangnya, makna ‘tulisan bagus’ hari ini udah sangat kabur bagi saya. Banyak ‘tulisan bagus’ tentang musik-seni-traveling-apapun sampai kaitannya dengan kajian sosio-kultural (ini makhluk gaib macam apa ya? Kalo ada kata ‘kultural’, pasti itu artinya BUDAYA. Bener kan? Kan? Damn! Berat, anjis…) di zine dan webzine sekarang-sekarang ini yang ditulis dengan tata bahasa rapi dan sangat terstruktur, kosa kata elit yang saya yakin nggak semua orang—terutama yang ber-IQ pas-pasan seperti saya ini—mengerti, sudut pandang ajaib dan beragam referensi canggih, tapi sesungguhnya mereka tidak berkata apapun. Kemasan apik dengan ornamen yang begitu mengilap, yang sayangnya nihil makna. Saya terkadang bener-bener bingung apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh si penulis. Dan kalopun saya berhasil menemukan maksud dari si penulis (setelah saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengetes apa emang bener IQ saya jongkok dengan gagalnya saya memahami tulisan itu), saya baru sadar si penulis telah menyiksa saya dengan menyampaikan ide yang sebenarnya sangat sederhana (bahkan kadang nir-makna) melalui pemaparan berbelit, tempelan-tempelan peristiwa random yang nggak relevan dan seringnya nggak logis, berikut ribuan nama tokoh radikal, mulai dari Mbah Jenggot sampai Om Kumis. Hipotesis paling mungkin: barangkali si penulis nggak pengen terlihat bodoh seperti saya. Lalu saya pun bertanya dalam hati: Ini apa ya?

Begitu saya beralih ke tulisan yang jauh lebih serius, kekecewaan berikutnya muncul. Tipikal tulisan yang dibuat se-“aman” mungkin, menghindari potensi konflik atau minimal keberpihakan, diplomatis, dan pantang menunjukkan emosi. Apalagi ofensif, haram hukumnya. Sekali lagi, rasanya kita perlu malu kalo harus menengok (konon bagi yang punya dan membaca) tumpukan buku si filsuf godam yang berani ofensif sepanjang hidupnya hingga mesti dihina-dina. Ah, emang bener ternyata, era di mana para penulis zine saling “serang”, tanpa ragu menulis seenaknya dan begitu lepas, dengan mental “peduli setan” dan muka tembok, sudahlah terlewat….Sumber kekecewaan ini kemungkinan hanyalah dua: saya yang terlalu old-school, atau memang beginilah dunia berjalan. Jaman terus berubah, bergegas. Demi pembenaran untuk “permainan aman” ini, segala hal jadi dibolak-balik, dipereteli lalu disusun lagi, dilipat-lipat ala origami, dan sebagainya, sementara saya terlalu pemalas dan pembosan untuk terburu mengikutinya. Atas nama posmodernisme, posstrukturalisme, dan pos-pos lainnya yang bikin saya semakin kebelet ee’, ini semua sah-sah saja. Namun, sepakat dengan apa yang diteriakkan Ian Antono di sebuah wawancara dengan Rolling Stone Indonesia: “Anak muda jaman sekarang itu nggak rock ‘n roll!”, bagi saya, pemaparan di atas barusan bukanlah suatu kemajuan. Takut berhadapan dengan konflik dan serba main aman, jelas-jelas sebuah kemunduran. Rupanya mid-life crisis yang datang terlalu cepat sudah mewabah jadi tren.

Ini diperparah dengan para pembuat zine yang seolah terlalu takut untuk menjadi dirinya sendiri. Saya yakin setiap orang punya sosok penulis yang menjadi inspirasinya. Jangan khawatir, saya pun begitu. Tetapi satu hal yang saya sadari: saya tidak ingin jadi mereka. Saya bukan mereka. Saya nggak pengen mencari jalan pintas untuk dikagumi, dihormati, diakui—intinya, menjadi hebat—dengan jadi fotokopian. Saya nggak butuh itu. Sebut saya munafik, tapi saya hanya berkata jujur. Saya hanya bisa menulis seperti adanya saya. Segimana mentok dan enjoy-nya saya. Sekacrut, sebutut, dan sebusuk apapun yang saya tulis, pada dasarnya saya nggak terlalu peduli dengan penilaian orang terhadap kapasitas saya. Ya memang sebegitulah yang saya mampu, dan saya berdamai, serta bergembira dengan fakta itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha menikmati proses belajar: bagaimana menyampaikan ide melalui tulisan agar lebih mudah dipahami dan setidaknya dapat menginspirasi—yang sampai kini pun saya ngerasa belum berhasil. Dan kemampuan itu tidaklah didapat dengan instan. Tidak jatuh dari langit. Dan bukan genius-gift yang dimiliki sejak lahir, terkode dalam gen. Kemampuan itu didapat dengan berlatih, didapat dengan berani salah, berani terlihat jelek, karena semuanya justru dimulai dari situ. Mengetahui apa yang salah, memacu kita untuk mencari dan mempelajari yang benar. Mendapati kejelekan, memacu kita untuk mempelajari penyampaian yang apik. Saya sungguh yakin, penulis-penulis idola saya pun rela berdarah-darah sepanjang proses menulisnya. Mereka pernah menulis dengan sangat buruk, lalu memperbaikinya, dan memperbaikinya lagi, mencurahkan hasrat menulisnya—entah untuk tujuan apapun—sepenuh hati, dengan totalitas yang tidak setengah-setengah, hingga memiliki skill mumpuni, dengan berbagai konsekuensi yang mereka tahu akan mereka hadapi. Bagi saya, itulah keberanian menulis dengan darah.

Sebab dari keluhan panjang saya di atas—menurut analisis cetek saya—adalah keinginan untuk membinasakan proses demi pencapaian instan dan obsesi berlebihan terhadap kesempurnaan hingga menjadi diri sendiri adalah hal terakhir yang para penulis ingin lakukan. Aneh, mengingat satu-satunya kemewahan dari membuat zine adalah kesempatan untuk menjadi diri sendiri di tengah hiruk pikuk modernitas yang begitu artifisial. Bilang kalo saya terlalu berani menuduh, tapi avatar dan imaji palsu yang kita tampilkan di akun sosial media bukan lagi topeng-topeng tak bertuan yang kita gunakan untuk bisa berkata jujur, justru sebaliknya, menjadi pemenuhan terhadap hasrat megalomaniak yang haus pengakuan.

Sebelum saya ngelantur, sok tahu dan menuduh terlalu jauh, saya cuman pengen bilang, sebagai penikmat zine, saya nggak punya ekspekstasi muluk-muluk apapun terhadap suatu karya. Ketika pembuatnya jujur, itu sudah lebih dari cukup.

AU REVOIR #1-3

Au Revoir zine 1, 2, & 3.

Au Revoir zine 1, 2, & 3.

Datang dari Semarang, zine ini seketika langsung jadi favorit saya. Pembuat zine ini, Annisa—yang teramat cantik, hangat, cerdas dan berbakat hingga menarik penggemar yang berjibun dan mampu membuat para jomblo-kronis-norak skena lokal berkelakuan semakin norak (sekarang kalian tahu kan kenapa mereka tetap terperosok menjadi jomblo?)—saya kenal sejak sekitar tiga tahun lalu. Dia sempat membuat zine bernama Gnoem-Gnoem (baca terbalik: Meong-Meong—barangkali karena kecintaannya pada kucing yang tiada tanding) yang berisi tumpukan artwork karyanya dan kolase-kolase random yang sangatlah lucu. Itu belum termasuk zine-zine mini buatannya yang jumlahnya tak terhitung—sekedar informasi, Annisa turut serta dalam workshop membuat zine-zine mini macam itu di Bandung Zine Festival 2013 lalu.

Saya pikir Au Revoir punya feel yang nggak jauh berbeda. Annisa pernah bilang kalo awalnya zine ini hanyalah berisi lirik-lirik lagu favoritnya, atau bisa juga—menurut estimasi saya—lirik-lirik lagu yang menggambarkan moodnya saat zine ini dibikin, atau lirik-lirik lagu yang menurutnya keren dan inspiratif. Bisa jadi kan? Ini terlihat di edisi #1 Au Revoir yang sepenuhnya berisi lirik lagu dengan sedikit tempelan gambar-gambar cantik bikinannya. Mulai dari lirik lagu musisi yang bagi saya familiar semacam Coldplay, Bob Dylan, The Bird and The Bee, sampai ke musisi yang sumpah mampus saya nggak pernah denger lagu-lagunya seperti OMD (ini apanya OMG?), Midnight Juggernauts, dan…ah ya, si Bon Iver. Meskipun nggak semuanya, tapi sebagian besar lirik yang saya dapati memiliki atmosfer sendu. Nggak perlu kita berspekulasi terlalu jauh mengenai suasana hati si pembuatnya lah! Next.

Menuju Au Revoir #2 dan #3, nampaknya Annisa nggak lagi terlalu tertarik untuk berbagi lirik lagu, melihat porsi lirik lagu yang sangat sedikit, dan justru nggak ada sama sekali di edisi #3. Sepertinya Nisa memutuskan untuk lebih banyak berbicara melalui kolase cantik dan gambar-gambar yang luar biasa cute. Menurut opini personal saya, yang jelas-jelas nggak ngerti perkara seni—terakhir kali saya mencoba menggambar dinosaurus, seorang teman mengira itu adalah sapu lidi—Nisa memang artworker berbakat. Gambar-gambarnya mungkin bukan tipe gambar realis yang penuh detil menakjubkan, tetapi kita langsung tahu, Nisa membuatnya dengan sangat jujur dan sepenuh hati. And, she got her own signature. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada temen-temen artworker luar biasa yang saat ini bermunculan, rasanya Nisa nggak perlu punya skill super-canggih untuk membuat gambarnya berbicara. Menurut saya, itulah yang terpenting. Karakter gambar-gambar Nisa begitu kuat, sampai-sampai ketika saya nemuin gambar yang senada, saya akan berkomentar “Wah, ini gambarnya Nisa banget ya!”. Jujur, saya selalu kagum dengan siapapun yang berhasil ‘memiliki’ karyanya, dan bukan kebalikannya. Artinya, dia sadar betul kalo karya adalah wadah untuk meninggalkan jejak karakter yang khas, tidak dimiliki siapapun selain dirinya.

IMG-20140703-WA0006

IMG-20140703-WA0004

Banyak coretan dan gambar Nisa di Au Revoir yang sangat personal, misalnya dia membuat list ‘things I like’ versinya sendiri, atau daftar ‘hal-hal yang nggak boleh dilakukan waktu sedih mendadak’, atau info-info pendek seperti ‘why we should eat more honey’, semacam itu. Tapi setiap karya punya perjalanan evolusinya sendiri. Au Revoir bergerak dari zine lirik lagu yang penuh dengan adorably cute sketches ke arah fantasy zine di Au Revoir #3 yang memuat interview dengan illustrator hebat yang nama-namanya mungkin baru aja kita denger: Oblyvian, Jean Corace dan Sam Lubicz (ini sungguhan, karya-karya mereka memang betul-betul inspiring!). Ketiga illustrator ini punya karakter karya yang jauh berbeda. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Nisa cukup sederhana—dan tetap manis. Bahkan dia meminta Sam Lubicz membikin doodle yang mengekspresikan perasaan si Lubicz saat itu. Cute sekali :D

Belum lagi interview dengan illustrator bernama Jen Corace yang ilustrasinya sanggup menggiring ingatan saya pada karya-karya illustrator favorit saya, Ilon Wikland, di buku-buku Astrid Lindgren—saya memang penggemar dan kolektor bukunya. Saya baru dengar nama Corace, dan jawaban-jawabannya di interview Nisa terkadang menyentuh. Ketika Nisa bertanya: Who is your most favorite artist of all time? Corace menjawab, “Joseph Cornell. It seems obvious to say that he was a master of creating little worlds you can get step into, but not necessarily lose yourself in. Which might sound like a slight, but I more mean that they are a glimpse and not a full view. It’s like peeping in on a secret”. WOW. Apakah kalian sudah tergerak untuk mencari karya-karya si Joseph Cornell ini melalui Google?

Apa lagi yang Nisa berikan pada kita dengan sepenuh hati selain tulisan-tulisan singkat yang terasa manis? Manis karena nyaris tidak bertendensi apapun selain hanya ingin bercerita tentang harapan-harapan dan peristiwa sederhana yang begitu berarti baginya. Apa lagi? Adakah?

Sebagai (sok-sok) penggemar sci-fi yang nggak pernah bosan berulang kali menonton 2001 demi mencari inspirasi di kala rutinitas membuat kreatifitas menumpul, dan sadar betul bahwa The Prestige sesungguhnya mencontek ide jenius Primer, dan dengan ngototnya menganggap Jabba The Hutt adalah makhluk bikinan George Lucas yang paling brilian, serta masih terbingung-bingung bagaimana Alfonso Cuaron men-direct Gravity, saya berharap dengan segenap jiwa dan raga, zine ini akan mengarah ke fantasi zine. Saya nggak tahu apakah zine semacam ini sudah eksis sebelumnya di sini, dan juga nggak tahu apakah Nisa setuju atau tidak zine-nya disebut begitu, sejujurnya….saya nggak terlalu peduli.

Karena, gejala-gejalanya toh sudah nampak dengan dihadirkannya resensi buku Laika (Nick Abadzis): novel grafis tentang anjing pertama yang diorbitkan di luar angkasa oleh Soviet, lengkap dengan kolom kecil tentang Sergei Korolev (desainer rocket dan pesawat luar angkasa Soviet), dua halaman berisi kolase artikel ‘Rahasia Foto Antariksa’ yang entah didapat Nisa dari mana, berikut gambar-gambar Nisa sendiri yang bagi saya…sangat fantastical, semisal gambar alien, hingga cewek astronot seperti di bawah.

IMG-20140703-WA0003

Dan oh ya, dengar-dengar Nisa pun akan meresensi buku Doraemon seri Big Science di Au Revoir #4. Saya berdoa dalam hati, semoga akan lebih banyak konten fantasi ataupun sains-fiksi imajinatif di edisi-edisi Au Revoir berikutnya. Because,

I will be fucking psyched.

-

Reviewer: Ming

Three Headed Saturday

IMG_20140531_065521

Setelah akhirnya bisa menyelesaikan 3 buku “tanggungan” dalam satu minggu ini, di sebuah pagi tepatnya sekarang, hari Jumat, aku sedang memandangai kertas yang sengaja kutempelkan di dinding, berisi hal-hal yang harus aku lakukan tahun ini dan buku yang sebaiknya bisa aku beli dalam waktu dekat, termasuk mendapatkan pekerjaan yang lumayan untuk bisa menjadikannya tumpuan menyisihkan uang, karena rasanya lebih enak jika bisa mendapatkan semuanya sendiri dari kerja keras kita daripada meminta orang tua meskipun memang lebih mudah, seperti halnya tinggal sms ayah, dan dia akan membalas dengan lekas beberapa karakter yang terbaca “Y” saja atau “Okelah” atau “Ya” jika sedang dalam mood diantara keduanya. Ah tapi aku senang, buku yang menjadi temanku sarapan kali ini seolah memiliki bobot yang sama dengan berat tubuhku, kecil dan padat, namun juga penuh khayalan, penuh pertimbangan, seperti akan serius pada sesuatu, namun mengakhirinya dengan tertawa! Sambil curi-curi pandang pada kucingku yang sedang berlarian mengejar capung didalam rumah, aku pikir pagi ini tak terlalu buruk. Maksudku, karena aku terbiasa pada bangun yang tak begitu melegakan setelah mimpi buruk, namun entah mengapa sudah tiga hari ini aku bisa tidur siang dan itu pertanda bagus. Aku juga tak bermimpi lari-lari telanjang lagi, atau mungkin aku masih akan memimpikannya namun tidak sekarang, aku mau berlibur sejenak, dan aku akan menghabiskannya dengan buku-buku bagus yang kadang karena terlalu cepat dan gegabah membaca, aku melewatkan beberapa gugusan kalimat, seperti Kata-Kata Sartre yang musti aku baca beberapa kali agar aku bisa mengingatnya dengan baik. Oh ya, aku juga memiliki ingatan yang pendek, jadi mungkin aku sudah pernah menuliskannya sebelum ini dan kini aku ceritakan lagi. Selain itu, aku juga sudah menumpuk beberapa judul pada antrian yang berkumpul diatas meja sebelah kiri, bersampingan dengan komik-komik jepang yang aku sukai, kebanyakan bercerita tentang hubungan manusia dan hewan peliharaannya dan juga cerita horor, favoritku adalah sepasang kekasih yang bisa melihat dan mendengarkan arwah disekeliling mereka. Jadi sembari mengingat cerita-cerita misteri tersebut, aku memutar lagu Go Go Smear the Poison Ivy milik Mum. Sepertinya akan cocok dikolaborasikan dengan kondisi kepalaku sekarang, dan aku tak salah dengan itu. Kemudian ketika momentum ingatan dan lagu sudah saling bergandengan, jika kau perhatikan dengan teliti, roh-roh buku dan komik jepang akan keluar dari jasad mereka sambil mengenakan sayap putih muda seperti diserap oleh vacum cleaner tak terlihat dengan kecepatan ringan, “W…u..zzz..zzzuu..zz”. Seperti itu bunyinya. Tapi suara tersebut hanya bisa didengarkan ketika kau sedang sendiri didalam kamarmu, mematikan lampu, dengan perut lapar, dan kulitmu ditempeli bulu kucing. Kemudian arwah-arwah buku itu tadi menarik lengan kawan mereka dengan kecepatan yang tidak kalah pelan seperti mereka dikeluarkan dari cangkang dan sampul, beberapa dari mereka perempuan remaja tapi juga anak-anak lelaki yang tak berpakaian, kemudian setelah lagu selesai mereka melebur begitu saja diantara debu dalam terpaan sinar matahari yang terlampau irit sebab ia masuk lewat lubang sebesar sedotan air minum kemasan seharga seribu rupiah. Dan mereka menghilang bersama-sama.

Lagu kedua terdengar seperti seorang gadis memainkan pinggiran bibirnya sambil bersenandung “Memememe..Me’mememe” lalu diselingi musik-musik semarak dengan lirik yang tak kupahami artinya. Entahlah, seperti semacam parade di desa tertentu dengan ternak yang ikut bernyanyi dan ibu-ibu petani membunyikan peralatan masak mereka di dapur, lalu ayah-ayah petani menggosok punggung ternak dengan lembut dan dalam dengan sikat sehingga menghasilkan suara “Sraook, sraook, sraook”.

Dan menyebabkan suatu hari sirna bagai cahaya redup ketika aku memejamkan mata.

_________________________________________________________________________________________

Di lain hari ketika aku terbangun pukul 02.00 pagi, aku merasakan hujan diluar begitu merasuk sampai-sampai ia seperti perpanjangan nada dari Samsara – Pagan milik Michael Stearns, Lisa Gerrard dan Marcello De Francisci. Hari ini aku melihat seorang yang kukenal menikah. Tentu energi baik dari setiap pernikahan aku sambut dengan bahagia pula. Mengingat kami hanya melewati beberapa bulan lewat monitor dan suara yang direkam mesin percakapan. Namun, kupikir begitulah proses anti-klimaks terjadi pada sebuah hubungan, kami mengendarainya dengan kecepatan stabil dari awal, kami membicarakan hal yang memperkaya pengetahuan kami, dan tentang mimpi-mimpi alam semesta. Mungkin, itulah yang membuat aku akan terus mengingat orang-orang yang terjaga semalaman denganku. Rencana kami sampai pada banyak lagu dan catatan. Tapi seolah semua hal menarik harus dibekukan ketika dua insan sampai pada konsep keterikatan, menikah dan turunannya. Tapi kesedihan tidak akan pernah menjadi sepermanen kebahagian dalam kehidupan fiksi ini bukan? Mungkin aku terjangkit bermacam-macam khayalan, seketika ngomong ngelantur dan ingatan meloncat-loncat seperti kesepian menghancurkan milyaran sel otak sehingga aku lebih sulit mengingat.Bahkan untuk buku-buku yang baru saja aku baca. Aku sering, dalam lamunanku merenung bagaimana sunyi membumihanguskan kenangan-kenangan baik dan menggantinya dengan ketakutan tak berarti.

Tiba-tiba aku ingat dengan mimpi-mimpi menakutkan seperti tenggelam di lautan hitam dengan air yang kental seperti samudera oli. Atau makhluk-makhluk asing yang menjelma seperti perempuan dengan wajah rusak dan rambutnya yang panjang, atau teman-teman yang tak pernah aku temui lagi sejak aku umur 6 tahun namun ada di mimpiku sedang berusaha membunuh dirinya, atau mati dengan tidak sengaja. Jika, tulisan ini dipahami sedikit lebih mendalam orang-orang pasti akan mengira aku menderita stres akut atau semacam manic depressive syndrome dimana, seks dan obat-obatan menjadi opsi terbaik, terburuk, dan tidak menyisakan pilihan lagi untuk dinikmati. Mereka, tidak seperti halnya Atom ke Quartz, atau Tuhan yang bersedia dibagi lebih kecil kedalam partikel untuk dilangkahi umatnya dan menjadi karpet untuk kaki-kaki mereka, kedua hal tersebut took people’s soul away tapi aku tak merasa aku akan dibawa ke neraka karenanya. Neraka was too overrated.

Hingga, kadang aku merasa aku harus menjadi Zarathustra untuk diriku sendiri. Tentu untuk diriku sendiri. Zarathustra seperti La Tahzan yang bergaung ditelinga muslim. Bukunya yang tebal dan susah dipegang dengan baik saat membuka halaman cukup tidak mengenakkan memang, juga halaman putihnya yang tegang seperti kakek marah-marah. Namun, tahukah kau apa yang membuat aku merasa begitu akrab dengan Zarathustra bahkan ketika aku jadi yang terasing diantara sekelilingku?

Kita lihat beberapa kutipan ini ya!

- “Dan tidur bukanlah seni yang remeh: sebab untuk itu kau harus terjaga sepanjang hari.”

- “Sepuluh kali engkau harus tertawa dalam harimu dan bergembira; sebab jika tidak, perutmu, bapa dari segala kemuraman, akan mengganggumu sepanjang malam.”

- “Dan bahkan setelah kau memiliki semua kebajikan, masih ada satu hal lagi yang penting untuk dipahami: semua kebajikan itu harus disuruh tidur pada saat yang tepat.”

- “…Apalah dayaku jika memang kekuasaan ingin berjalan dengan kaki bengkok?”

- “…-Ya, itulah tidur, dia yang tidak boleh dipanggil, dia sang penguasa kebajikan.”

(Sabda Zarathustra, Niezsche, hal. 100 – 103)

Aku yakin Nietzsche menuliskan ini semua saat sleeping disorder mengganggu ia sepanjang malam. Setiap hari. Dan perlawanannnya membawa pria ini ke sebuah petualangan yang pelik soal nasib, kenegaraan, diri, dan spiritualitas. Yang membuatku senang adalah, akhirnya dalam satu titik dihidupku aku merasa ada orang lain yang ikut merasakan bahwa musuhmu adalah ketidaksadaran! Dan itu semua memiliki puncak tertinggi tempat ia bersemayam bersama kehendak-kehendak yang mati lainnya : Tidur. Lembah sunyi, gelap, seperti rahim yang tak bersahabat. Penuh monster dan lautan dalam yang tenang seolah dapat menyesatkanmu kapan saja. Hantu tidur akan naik di tengkukmu, lalu memijat-mijat kepala belakang dengan jarinya yang terdiri dari pisau tipis dan gada. Itulah tidurku. Tak kutemui berita menyenangkan dari keluarga-keluarga yang kukenal disana, tak kutemui makanan enak dan permen manis seperti saat aku terjaga dan acuh pada dunia, tak kutemui imajinasi-imajinasi menyenangkan dari dongeng yang aku baca, disanalah suara tiktok jam dinding bahkan bersembunyi karena takut. Tidurku tidak memiliki tahun, ia amatlah besar dan menakutkan seperti ibu kandung. Tidurku bukan rumah yang nyaman, itulah mengapa aku terus berlari didalamnya, jatuh kejalan dan kebun-kebun sembari bertelanjang, aku tak mengenal baju, sebab tidur terus mengejarku. Membuat aku lelah dan melupakan kegemaranku mencermati hal-hal menyenangkan dari hidup itu sendiri. Namun, bagaiman aku bisa yakin bahwa nasib baik akan lebih memilih kesadaran atau ketidaksadaran? Sekilas, aku merasa tidak ada yang betul-betul menyenangkan dari itu semua. Aku akan terus berlari dalam jalan raya yang begitu abu-abu diantara terpejam dan bangunku sebab monster-monster tengah berusaha memangsaku ketika aku sedikit saja lengah dan memasrahkan diriku kepada mereka. Aku bisa mati kapan saja.

________________________________________________________________________________________

Ajaibnya, aku bangun di lain malam dengan perasaan takjub setelah membaca buku lain. Tentang anak-anak dan rambut pendek mereka yag harum ditiup angin. Aku sedang membaca Toto-Chan, atau mungkin jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang dekat dengan panggilan sehari-hari, ia disebut juga Dik Toto. Nama panjang Toto-chan adalah Tetsuko, yang diambil dari huruf Cina,  Toru yang berarti menembus, mengalun hingga jauh, jernih, dan menggema seperti suara, seperti yang tertulis dalam buku pada halaman yang khusus menceritakan tentang nama Toto-chan.

Seperti buku-buku lain, Toto chan pun harus aku relakan dengan perasaan sedih setengah senang untuk ditulisi, digarisi, dan diberi simbol sebagai penanda ada hal penting disana. Dan ketika aku melakukan hal tersebut, aku selalu membayangkan akan membuka lagi halaman itu ketika usiaku beranjak lunglai, hanya bisa duduk-duduk saja di kursi malas, terjangkit bermacam-macam khayalan, dikelilingi kucing dan seekor anjing kesayangan, serta buku-buku yang aku pilih sebagai bagian pengantar umurku.

Toto-chan aku dapatkan dari sebuah lapak buku sederhana milik seorang teman yang bersikeras melakukan kurasi pada buku-buku yang akan dijual sehingga buku terpilih itu akan dapat memuaskan siapapun yang membacanya nanti! Aku membelinya seharga Rp 55.000,00 pada bulan Juni 2014 yang mendung dan semilir. Pertemuan dengan Toto-chan membuatku gembira dan merasa aku tak usah berusaha keras untuk menjadi dewasa, karena kita dapat selalu memiliki kebijaksanaan dan ketulusan hati seorang anak. Buku ini mengajariku demikian, aku terpengaruh hal-hal baik yang ada di dalamnya. Membuat hatiku dari yang kosong dapat terisi kembali, meskipun kadang bercampur kesedihan, namun sepertinya membayangkan anak kecil bernama Tetsuko yang berjalan riang ke stasiun bersama anjingnya Rocky sambi mengantongi bekal berisi makanan dari pegunungan dan lautan, berikut keingintahuannya akan banyak hal hingga pertemuan dengan kepala sekolah yang baik hati bernama Sosaku Kobayashi terasa menghibur hati. Aku jadi semangat makan, dan bisa merindukan orang-orang di rumah, aku jadi rindu memasak, dan aku menjadi tahu ada banyak hal yang masih menunggu untuk dipertemukan denganku!

Betul, jika kau pelajari dengan baik barangkali akan sedikit sukar menghadapi maksud dari tulisanku disini. Bila aku membaca buka A maka percakapanku denganmu akan terdengar seperti aku dan A dan dirimu yang sedang mengobrol di sebuah kafe dengan pura-pura kenal satu sama lain! Bisa juga setelah membaca komik B maka aku akan tampak ceria tak seperti biasa! Bisa juga setelah membaca buku K, aku akan terdengar seperti barisan pegunungan yang dingin. Tapi aku harap, tulisan ini akan membuat diri kita mengingat sesuatu. Sebab, bukankah perasaan lupa tak ingin diingat kapan datangnya?!

Kini pukul 01:07 pagi. Aku masih terjaga ditemani kucingku yang bernama Kimmi. Ekornya besar dan melengkung jika menghindari laptop. Dia akan jeli memperhatikan jemariku jika aku mengetik dengan cepat, tapi aku tak suka pelan-pelan karena semakin lambat semakin mudah lupa!

Dingin diluar.

Lalu, merasuk kedalam, terserap pori-pori tembok rumah.

Berharap saat aku mengetik semua keanehan dalam tiga kepala ini aku sudah berada di lain negara. Sendiri, namun menghadap langit yang sama. Salam Hangat! Mari buat mie dan seduh teh!

 

 

Alam itu Mengobati Kalbu

Jujur saja, sebagai perempuan saya kurang suka dengan siklus menstruasi bulanan yang sangat merepotkan ini. Sebab saya akan bangun tidur dengan limbung, ingin muntah, ingin buang air besar disaat yang sama, ditambah insomnia saya yang menambah buruk tiap harus bangun pagi. Sehingga, dalam satu bulan jika harus bekerja rutin, lembur, dsb, saya mau tak mau harus meminta toleransi 7-10 hari ketika menstruasi sebab tak enak jika harus ada di kantor dengan mimik berkeringat dan mata melotot. Namun, saya akhirnya memutuskan untuk mengurangi minum analgesik yang biasa disertakan dalam resep dan dijual di apotek-apotek. Pertama karena obat yang satu tidak cocok untuk riwayat magh saya, kedua karena obat yang lain akan berakibat highness sebelum benar-benar sembuh bahkan harus menunggu 2-3 jam sampai saya tertidur karena menyerah. Ayah saya menyarankan daripada harus minum obat pereda nyeri kenapa tidak minum obat tidur saja kalau begitu, alasannya cukup masuk akal sih tapi tidur saya jadi tidak nyaman bahkan dengan setengah butir amitripilin. Jamu dan pijat akhirnya jadi alternatif saya meskipun tidak berakibat banyak juga. Sebenarnya saya sendiri sudah sering ke dokter, terakhir ke salah satu rumah sakit besar di kota, namun dari dokter setelah di USG sendiri hanya menyarankan rutin kontrol selama 6 bulan setelahnya karena tidak bisa sembuh dengan cepat, ada peradangan, namun ketika harus menebus obat ayah saya kewalahan dengan harganya. Karena kami tidak memiliki askes dan kartu kesehatan lain, kami akhirnya hanya membayar biaya USG tanpa membawa pulang obat sama sekali. Morfin yang dilarutkan lewat pantat saya kala itu benar-benar menipu sehingga saya berpikir saya bisa baikan hari itu juga. Seorang dokter lain yang mana saya sering menebus resep anti depresan disana menyarankan untuk menjaga stabilitas perasaan dan olahraga rutin selama sebulan sebelum pendarahan. Sebagai manusia modern kadang saya ini merasa terlalu pemalas untuk takut terhadap pengawet, obat-obatan, mesin, dan hal-hal disekitarnya yang bisa lebih mencelakakan kita daripada isu prasejarah seperti roman Adam-Hawa dan binatang buas. Orang-orang lebih takut terhadap singa, harimau, binatang bergigi runcing daripada kolesterol atau manusia yang jahat. Memang betul kami memiliki ketakutan bawaan, tapi bodohnya kami selalu yakin bahwa hewan-hewan tersebut akan menyerang kami lebih dahulu, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Harimau cenderung menghindar ketika bertemu dengan orang lain, insting membidik dan buru miliknya tidak akan mudah dilakukan ketika berhadapan dengan sekelompok manusia yang bersenjatakan benda tajam dan bermukim berkelompok. Orang utan yang diklaim sebagai hama perkebunan sawit pun baru-baru ini membuktikan betapa mudahnya manusia mencari kambing hitam atas kebodohan mereka. Disamping karena otak kita memang tidak berevolusi banyak selama seuluh ribu tahun terakhir, ada orang-orang yang memang betah hidup sebagai kaum barbar.

Intinya, saya terlalu nyaman dikasur, sehingga menomorduakan olahraga yang jelas-jelas memiliki pengaruh atas hidup dan matinya saya nanti. Ah, iya, kita kan memang suka menunda, tidak akan belajar sebelum mengalami akibatnya langsung. Di pantulan wajah saya pada layar laptop ini, saya melihat bakal keriput didekat mata yang mungkin akan sedikit manja ketika saya nanti berusia 30 tahun. Rambut saya berwarna coklat batangan yang bertemu daun rosalia merah, dan disanalah saya merindukan kulit kekasih yang lama tak mampir. Iya, saya takut menua. Saya takut kehilangan semua energi dan semangat ini. Saya merasa harus membuat teh, menuangkan gula, mengaduknya dengan air panas yang seimbang agar manisnya sesuai yang saya inginkan karena memang tak akan ada yang membuatkan teh seperti itu untuk saya. Saya terlalu lama belajar untuk sendiri, atau sebenarnya malah belum belajar sama sekali ya? Hihi, sehingga hal-hal remeh bisa berarti sekali. Seperti saya harus membersihkan rumah, padahal saya sedang tidak enak badan karena saya ingin semuanya bersih dan rapi sebab tak akan ada yang melakukannya untuk saya. Orang-orang itu tak mengerti yang saya inginkan, saya harus berusaha menyenangkan diri saya sendiri.

Kurang lebih, darisitu saya tahu alasan saya tidak bisa tidur.

Dan kemarin, ketika saya akhirnya mendapat hari pertama menstruasi saya, saya sedang baring-baring santai di kamar sambil bosan karena tidak bisa mengerjakan banyak hal  sebelum pesan masuk ajakan naik gunung kecil didekat rumah dari pacar saya masuk. Saya berpikir cepat untuk ikut tidaknya karena selain tracking yang agak curam dan jauh, saya juga tidak begitu sehat tapi keputusan untuk keluar rumah adalah satu hal yang tepat, saya bawa ransel, sepatu, mantel, obat-obatan, syal dan payung. Agak berlebihan tapi saya tidak mau ambil resiko. Dibutuhkan 20 menit naik angkot ke tempat kumpul, ada Ben dan pacarnya, Anas, Fadli dari Singapore, 4 orang dari Semarang dan saya sendiri.  Setelah jajanan terkumpul dan angkot yang kami sewa ke tempat tujuan siap, sepanjang jalan kami isi dengan cerita-cerita lucu. Udara hari itu teduh sekali di Ungaran, gerimis, breezy, suara sapa ibu-ibu petani dan ternak mereka serta rute yang sepi karena orang-orang memutuskan untuk lebih banyak di dalam rumah.

Kami harus melewati bendungan yang agak licin karena hujan sepanjang hari setelah sampai disana, saya cukup excited dan sudah bersiap menunggu efek obat menenangkan perut selama perjalanan. Setiap hal kami cermati dengan seksama, sebelum masuk ke gerbang yang lebih jauh kami disambut oleh capung-capung warna biru hitam didekat sebuah pohon yang bagian bawah batangnya terbuka seperti rumah bagi makhluk-makhluk kecil itu. Air yang jernih dan suara lembut aneh dari binatang-binatang yang hanya bisa kami terka namanya, laba-laba besar seperti raja, dan kecil seperti prajurit-prajurit yang merangkai jaring dengan semangat menjadi penghias setapak demi setapak yang saling memisahkan sungai disebelah kami. Jika tak sarapan dan fokus terbagi, meniti jalan seperti itu akan membuatmu limbung dengan mudah, maka kami pun tak bisa bercanda semau kami, disisi kiri adalah jurang tak terlihat yang ditutupi rumput dan tumbuhan besar, kami bersama-sama merentangkan tangan kanan agar badan kami seimbang.  Jujur saja jika harus bercerita dengan detail tentang pengalaman kemarin agak sulit buat saya karena saya terperangkap dalam bahasa yang tak selaras dengan betapa magis dewa-dewa pohon melihat manusia yang begitu kecil dan angkuh, saya belum naik gunung yang sesungguhnya, tapi air terjun yang kami tuju ini sudah menjadi satu hal yang begitu mengesankan, warna batuan-batuan didalam air, arus kecil dan besar yang terbentuk dari hulu ke hilir, alga-alga yang bergoyang dalam mimik yang diam, kepala kami yang dikelilingi kupu-kupu, udara yang tak pernah kami hirup sebelumnya, tak adanya suara mesin dan orang-orang berjualan riuh seperti layaknya kehidupan modern yang mengharuskan kita berpikir mati-matian soal masa depan, baiklah jika saya menjadi bagian dari kebudayaan purba saya akan mati dalam peperangan suku, tapi kami memiliki semuanya yang seorang pure human butuhkan. Kami tidak membutuhkan agama, pesan moral dari baliho caleg, bau sampah-sampah masyarakat, kami merasa begitu diberkati oleh dewa-dewa gunung ini, saya bahkan lupa perasaan panik saya soal menstruasi hari kedua, sepatu saya terisi air sampai penuh, kepala saya basah dan mantel saya pun basah, saya melepas jas hujan plastik berwarna biru-hijau terang, telinga dan hidung saya tajamkan untuk memastikan saya tak melewatkan hal kecil baru apapun yang bisa saya saksikan, dan selama 5 jam perjalanan perut saya tak sakit lagi, saya sudah sibuk dengan perasaan gembira.

Ketika sampai di air terjun pertama bernama Curug Lawe, kami disambut dengan batu-batuan yang kami bisa gunakan untuk duduk dan bersandar, saya dan seorang teman bernama Kartun menyiapkan plastik kosong untuk diisi sampah botol yang bisa kami temukan sepanjang perjalanan. Kami tak bisa berbuat banyak untuk menasehati orang-orang yang tak bisa memahami kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya seperti ini, namun kami bisa melakukan hal sederhana yang saya yakin akan sengat berarti bagi sekeliling kami, kami tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melanjutkan kebudayaan yang bodoh. Plastik itu sesak ketika kami pulang.

Saya mengumpulkan beberapa batu berwarna merah alami dengan bintik-bintik kristal seperti obsidian hitam sebagai detailnya, batuan warna biru juga abu-abu dengan bentuk segitiga, oval, dan lingkaran yang cantik. Mereka diam saja dibawah arus sungai, saya masukkan mereka ke kantong plastik kecil didalam mantel, dan akan saya kumpulkan dengan batuan yang lain ketika sampai rumah nanti.

Jalur menuju air terjun kedua sedikit sulit, cukup tinggi dan amat licin karena sebagian jalan berisi tanah yang basah dan dedaunan besar jatuh yang dapat mengecoh kita jika ada lubang didalamnya.  Saya hampir menyerah karena tiba-tiba saja keram perut datang lagi namun pacar saya yang menemani dibelakang bersikeras agar saya melanjutkan perjalanan  yang sudah setengah jalan jauhnya, dia menemani saya duduk dan berpelukan sebentar, saya jadi merasa tak begitu sendirian, hal tersebut membuat saya senang dia membantu saya, encouraged me by holding my hands. Kami akhirnya dapat menyusul rombongan, dan Anas juga beristirahat beberapa meter didepan kami sebab dia dan Fadli hanya memakai sandal jepit, namun Anas akhirnya memutuskan melepas sandalnya dan bertelanjang kaki sampai air terjun. Nama air terjun kedua adalah Curug Benowo. Selama 20 tahun tinggal di Ungaran, ini adalah pertama kalinya saya mendatangi kedua air terjun tersebut. Curug Benowo memiliki intensitas air yang lebih deras dari air terjun pertama, wajah saya diterpa air-air kecil yang saya bawa pulang ke rumah dengan perasaan lega nantinya. Ben sendiri dan pacarnya yang seorang environmentalist  berhasil mendapatkan foto-foto kepompong dan laba-laba besar yang menjadi penguasa pohon didekat air terjun, saya menemukan gua kosong yang saya pikir menjadi tempat singgah anak-anak kampus yang sering mampir kesitu. Lagi, saya mengumpulkan batu-batu dan memasukannya kedalam kantong. Roti kami sudah habis sebelum kami sempat turun, namun telah menjadi bekal yang cukup didalam perut. Didekat air terjun dingin sekali, tapi kami tetap berkeringat dan jalan kaki membuat badan kami lebih segar. Ya, karena sering berjalan kaki sebelumnya, saya jadi tak terlalu lelah meskipun harus menempuh beberapa jam perjalanan, nafas pun menjadi lebih teratur, lelah baru terasa sehari setelah kami selesai tidur cukup lama. Dan mendekati rute pulang, kami bisa melihat lumut-lumut tumbuh dibagian samping batu, kami masih terpayungi pohon-pohon yang mengintip kami dengan matanya yang teduh dan bahunya yang lebar. Surai-surai panjang berwarna hijau kecoklatan tumpah disebagian jalan kami sebelum beristirahat diatas bendungan yang dibangun saat pemerintahan belanda disini. Batu kali yang menjadi susunan fondasinya masih sangat kuat, dia hanya retak dibeberapa bagian namun masih bisa menjadi pijakan ratusan orang yang datang. Besi yang dulu pernah licin berukuran sebesar tangan orang dewasa, arsitektur lawas yang mengagumkan sekaligus megah.

Pukul 16.00 sore, kami sampai ditengah perkebunan cengkeh di jalan seperti kami pertama datang. Fyuh! Finally we made it! Senangnya bisa sampai dengan perasaan seperti tumbuh kembali. Kami duduk sebentar didekat pos, membayar iuran sewa angkot, dan meluruskan kaki. Cuaca sudah kembali cerah ketika kami menyelesaikan perjalanan, dan tinggal hawa dingin mengeringkan pakaian dan rambut kami yang basahnya tinggal setengah. Saya terdiam sejenak mengamati teman-teman yang juga terengah-engah kecil, mereka terlihat lelah namun kami tak bisa berhenti tersenyum.

Pipi saya memerah sembari bersembunyi didalam pos, berpikir untuk kembali lagi secepatnya setelah saya lebih sehat. Saya katakan pada diri saya bahwa saran seorang dokter yang keras kepala dan sudah lanjut itu banyak benarnya, dan kini telah saya penuhi satu meskipun masih harus dibantu. Menstrual cramp mungkin tak terdengar seram, tapi repot memang urusan personal. Dan terapi jalan kaki dibawah pohon ini mengantarkan saya pada sebuah pemikiran yang lebih lega dan bijaksana. Saya berharap dapat bertemu lebih banyak pohon seperti rotan yang  baru saya lihat tadi setelah hanya mendapatkan kursi-kursi jadinya yang legendaris, melihat banyak serangga dengan warna cakrawala yang ditorehkan dalam rintik hutan hujan, lalu mengingatkan bahwa dendam pada pemerintah yang mengganti akar dengan pilar memang abadi.

Kami pulang dan bermalam di rumah Kartun, saat makan sate malamnya saya dan Adiyat ngobrol tentang suara yang kami dengar di hutan, “Aneh ya rasanya kembali ke kehidupan modern lagi” katanya. “Tapi ya, beginilah kita. Sudah terlanjur modern.” Saya mendengarkan sambil memandangi kaki kami bersentuhan satu sama lain. Dada kami dingin, kehilangan kecil yang tergantikan oleh knalpot motor dan mobil.

Ketika saya menulis, diluar orang-orang sedang ramai mengemasi pesta tahun baru mereka. Kini 2014 pukul 1:10 WIB. Saya sedang tenang dikamar sambil mengetik, mendengarkan lagu, dan mendengarkan cerita dari kekasih saya yang menangis saat berbagi lagu dengan sahabat dekatnya. Saya merasa hangat dari jauh karena mengenakan kaos kaki longgar didalam rumah, menyampaikan selamat tahun baru bagi semua teman-teman saya dalam hati. Semoga kita sehat dan senang terus ditahun-tahun mendatang.

Love

18 Des | I’m not gonna do it all like boys and girls because love, stays in silence.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa buku-buku itu tak lagi memberikan warna padaku di masa yang akan datang. Suara mereka sunyi seperti abu lepas dari kayu, seperti adzan yang timbul dan tiada. Aku sadar akan sesuatu, jika semua rasa takut ini akan selalu kulihat dengan sempurna ketika aku tidur, tidur begitu nyata sedangkan terjaga begitu penuh dengan mimpi. Aku akan mengetahui kisah hidup orang lain dan kepalaku akan kaya dengan sari-sari yang bisa kuceritakan agar anak-anakku mengetahui riwayatku, namun kesepian dan hidup telah mengajarkanku cukup. Setiap pagi aku berteriak agar punggungku tak bungkuk menahan racauan yang menembus telinga, setiap kudengar banyak aku tak ingin tahu sebanyak itu, aku tak punya mangkuk yang cukup untuk menghidangkan semua makan malam sendirian, tentu tetangga-tetanggaku lebih mampu menghadapinya. Mereka dengan bumbu-bumbu racikan yang sudah berulang kali dicoba.

Bagaimana aku akan menghadapi semua ini? Kataku suatu hari. Ketika yang kulihat hanyalah ambang dari pintu ke pintu yang tak akur satu dan yang lain. Observasi dan data-data saling mendahului seperti mobil-mobil jalan raya di Jakarta. Aku berjalan dibawah remang lampu, menggenggam batu yang menjadi kawanku bicara, hanya batulah yang punya kuasa mendengar, selain Tuhan yang gemar melipat-lipat dunia.

Bangun tidur ini lidahku terasa kecut, udara dingin dibalik pintu membuatku mengenakan jaket merah seharga sepuluh ribu. Pesan-pesan yang tak berbalas itu seakan mengingatkan, “Cegahlah aku setiap kali aku urung mengirimkannya kembali padamu.” Lalu, selain jam dan suara televisi, serat daging yang sulit dikunyah adalah satu-satunya hal yang mengisi rumah ini. Aku baru saja bertahan dari sebuah pembunuhan yang berlangsung seru dalam mimpi, membuatku tak banyak menimbulkan gerak, dengan guling yang telah jauh dan selimut yang melilit perut aku sedang baku hantam dengan musuhku. Sebuah pertarungan dimana aku senatiasa kalah tanpa pernah mengerti kapan jam pasir dimeja juri akan segera dibalik. Aku bahkan K.O dengan tinjuku sendiri.

Aku bosan makan. Kenikmatan saat mengunyah tak lagi banyak menghiburku. Aku tetap makan sendiri tanpa nasi yang hangat, menghembuskan harum keringatnya setelah ditanak. Tidak, bu. Tembok ini telah menjadi besi, angkuh dan tegak berdiri. Ingatlah, aku tak sedang membangun pintu untuk diketuk. Aku sedang membangun benteng tempat aku bisa berulang kali bunuh diri.

Saat dalam bus pun, aku melihat orang-orang tua membawa anak berdiri sedangkan kami yang muda duduk seperti bertirakat, menyelipkan plastik sisa kebawah kursi meskipun disediakan tempat sampah, diluar jendela pengendara motor dengan balita-balita yang diberdirikan tanpa pengaman mata dan kepala melaju tanpa pertimbangan, infrastruktur memang diperbaiki, namun aku pikir semakin banyak orang kaya dan semakin banyak orang bodoh, kita akan semakin abai dengan sekeliling kita, alih-alih semakin rendah kebawah menajamkan akar, ilusi akan kesempurnaan iman dan iming-iming pahala menciptakan kerumunan orang yang menutup mata pada hal-hal remeh seperti kemanusiaan, mereka membuat target yang amat jauh, beberapanya sulit ditempuh namun membumihanguskan cita-cita dan kepercayaan saudara-saudara mereka.

Generasi-generasiku dilahirkan dari sebuh kompromi, menjadi permisif adalah tali pusat kami. Dari situ kami diberi nutrisi yang kaya bagi generasi yang lebih baik, namun dalam hati aku berkata,”Apa jika Indonesia ini betul-betul maju kita akan siap?” untuk tepat waktu dan memperhatikan rincian, tidak menoleransi kebodohan, dan pasanganku menjawab,”Ya aku siap, dan juga orang-orang yang cerewet seperti kita ini.”

Cita-cita akan berkata “Raihlah aku” ketika peperangan yang berserak dijalan berkuasa dengan “Langkahi aku”, semua kreativitas ini menjadi harta secara teknis, namun miskin arti. Apa anak-anak seumurku bisa bertahan dengan semua ini? Untuk bersepi-sepi. Menjadi orang yang asing dan minoritas, masih bisa bersenang-senang namun tahu  mereka bersenang-senang untuk apa. Psikotropika telah membuat kita semua bodoh. Kebebasan yang ia tawarkan amatlah mahal, dan kita murah-murahan menjual sekeping diri kita padanya, kita terlalu sombong untuk berhadapan dengan aparat, dan seketika itu juga telanjanglah diri kita didepan mereka. Bila satu orang akan masuk sel, ada berapa banyak orang yang tak malu berlari? Kegelisahanku seperti luka dihinggapi lalat, tinggal menunggu membusuk atau diamputasi. Kami tak bisa berharap banyak selain menebar cercaan-cercaan yang akan dibalas nyinyir di media. Sebagai perempuan, aku bisa kapan saja dilecehkan, dan semakin hari semakin kutajamkan ingatan itu. Bagaimana aku harus belajar didepan laki-laki dan didepan perempuan, selera yang berbeda ini bagai jamu pahit. Sulit untuk tidak terkontaminasi racun, entah dengan kesadaran atau tidak. Semua hal terasa salah sekarang, semua hal dapat membawamu kepada kesalahan. Aku berharap tak ada Nabi yang tak retak, tapi agama berani membungkam sejarah mereka, menjadikan mereka sesempurna mungkin dan fanatisme selalu mencret darah.

Sayangnya setelah lahir dari rahim kompromi dan tumbuh dengan ayah yang abai, orang-orang dengan kegiatan yang biasa saja akan selalu selamat dan kita yang mencintai resiko akan mati ditengah jalan, seperti juga seorang kawan berkata padaku, “Buku-buku ini membuatmu berpikir terlalu berat, kau harus menggantinya ke novel yang lebih ringan.” Tak sekali dua kali wacana tertulis itu membuatku tak berkawan selain dengan orang-orang yang sepi, hatinya bolong dan sulit makan, mereka dijauhi karena orang lain akan mengira mereka ngobrol sendiri, bahkan antara kawan-kawan minoritas ini saja kami masih suka ejek-ejekan. Tapi kami begitu sepi, hanya lewat tulisan-tulisan inilah kami melawan yang tak mampu kami lawan. Kini, aku berandai-andai jika pahlawan yang namanya tak pernah akan dicantumkan dalam sejarah bangsa ini masih hidup, sulit rasanya mengumpulkan masa untuk sebuah kekuatan yang sama besarnya. Pengecut, itulah generasi kami. Dan orang tua kami adalah pembunuh-pembunuh sejak pertama kami mengerti kenyataan. Mereka akan menempeleng anak-anak yang tak mengerti sopan santun karena mengambil keputusan mereka sendiri, patuh saja kurang cukup, kalian harus sangat patuh. Orang-orang tua ini menjelma menjadi pihak penguasa, kita harus meneruskan cita-cita luhur mereka yang tak dinamis dengan zaman yang generasi mendatang akan taklukkan, seolah mereka tak pernah mengerti bahwa anak mereka adalah orang lain dan bukan mesin pencabut rumput.

Tahun ini, setelah 21 tahun hidup sebagai rakyat biasa, bu, aku tumbuh sebagai duri dengan mawar diatas kepalaku. Dengan segala paradoks dalam kenyataan ini, tak jelas harus berpaling kemana? Aku kehilangan agama, keperawanan, keluarga, kawan, dan yang tinggal dari mereka hanya rasa yang setengah-setengah. Aku adalah bahan tertawaan lingkunganku. Karena aku selalu berpura-pura lembek diluar dan didalam diriku, kaku sekali. Aku memandangi gerimis di luar..kadang merasa ingin hidup selama ribuan tahun untuk menyaksikan evolusi manusia, melihat matahari kembali kerdil.

Tapi apakah aku benar-benar siap menyaksikan semua kesepian ini? 

0 (Nol)

0:30  / July 3rd

Bagi saya kebebasan adalah : dengan cukup merasa bahagia tanpa harus mempertanggungjawabkan apapun, kepada siapapun. Selebihnya melibatkan diri lebih jauh pada definisi personal yang dimiliki setiap orang bagaikan memahami banyaknya ikan di laut.

Sore ini, melintasi waktu di Semarang. Saya sedang menyelesaikan bacaan untuk mengalihkan perhatian saat menunggu bis menuju rumah. Saya berharap bisa menuliskan beberapa opini dulu selama dijalan, namun padatnya penumpang didalam bis dan laptop mati serasa tak memungkinkan melakukan petualangan lebih awal. Beberapa waktu belakangan, tak ada kecemasan berarti yang mengganggu. Secara subyektif, saya menyangsikan kehadiran dan kepercayaan-kepercayaan ini, nothing stands, like they said ; temporary. Kenyataan yang mengabur dipandangan dan penderitaan yang menjadi biasa saja. Saya mulai memahami konstelasi titik tersebut, saya ingat ada sebagian survival theories yang mengambang bebas diantara gugusan gas yang saya hirup, namun realita hidup terjadi dijalan. Diantara orang asing yang saya temui dalam bus, diantara lawan bicara yang bersetubuh dengan saya dalam bahasa, dan diantara keterbatasan kita dalam memahami segala sesuatu.

Kebebasan, tidak pernah bisa saya definisikan dengan sempurna, baik korelasinya dengan perasaan maupun pikiran yang berafiliasi dengan lipatan daging dalam kepala. Tidak juga saya memiliki kehendak untuk bebas sepenuhnya, sebab dengan begitu saya mengingkari beberapa level tanggung jawab, bagaimana jika kebebasan adalah fiksi dari resistensi kita atas ketidakbebasan itu sendiri? Maka yang muncul hanyalah pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan lain.

Saya harap, saya selalu memiliki kawan bicara yang ideal dalam perjalanan-perjalanan ini. Baik yang sifatnya besar maupun kecil seperti pergi ke pasar ikan, untuk memandangi bagaimana masyarakat kita bekerja dan berinteraksi dalam kebutuhan yang sama; bertahan hidup. Kita akan mengenal lebih banyak isu tukar menukar dan harga tawar, kemudian bertanya pada diri kita sendiri, pencapaian seperti apakah yang kita kejar.

After a single chuckle, saya baru menyadari bahwa segelintir pertanyaan, hanya dapat dipahami oleh diri kita sendiri. Menemukan jawaban dari mengalami konfliknya langsung.  Dan saya bergerak-gerak bagai ikan dengan sirip transparan dalam aquarium.

Sistem adalah penjara (Nietzsche)

 

Namun, dalam setiap tujuan akan penciptaan eksistensi kita sebagai manusia, kita bagai hidup dalam penjara maha luas. Bumi yang bulat ini, membuat titik-titik tersebut mudah untuk ditarik dan dihubungkan menjadi sebuah bentuk yang kemudian bertransformasi menjadi sistem yang lebih kompleks, “mengadakan” diri kita mau tak mau diantaranya. Dan sejak saat itulah, kebebasan menjadi kongruen dengan fiksi. Bagi saya, kita telah terbelenggu dari awal. Lewat kesalahan adam dan terbunuhnya anak laki-laki sebelum sejarah. Saya menyadari ada dekadensi yang menggerus keyakinan-keyakinan ini hingga saya tanpa sadar sedang memeluk krisis.

Tapi, bukankah konflik justru kadang menjadi survival kit itu sendiri? Jelas kita semakin vulnerable to pain, namun seiring seseorang menemui hambatan, berbanding lurus dengan keinginan untuk mengatasinya. Dan ketika ia bisa mengalahkan kesulitan tersebut, kita telah menguasai timpangnya rasio kita. Perlahan-lahan kedudukan setimbang kembali. The truth is always in the street, in the battlefield. Semua peraturan diciptakan oleh kesetengah-setengahan yang terlalu memaksakan dirinya untuk bisa memberikan kontaminasi yang riuh, membingungkan dalam keyakinan yang kita pegang, kerasukan bukan semata-mata berkorelasi dengan makhluk halus saja, nyatanya kerasukan kepercayaan orang lain jauh lebih memilukan.

Beberapa hari lalu, ketika saya mengikuti kelas online, saya bertemu dosen yang asyik. Dia menarik contoh paling sederhana dari beberapa narasumber dan tulisan-tulisan mereka yang kadang saya tidak begitu mengerti trigger apa yang membuat mereka menelurkan karya sebagus ini diusia remaja yang sekarang mungkin tidak banyak anak-anak umur 13-19 tahun diributkan masalah moral atau bagaimana pelembagaan distorsi itu dibangun tak kasat mata. Seorang kawan saya disini pernah ngomong, “Jangan-jangan semua ini dibangun untuk menyibukkan manusia, sehingga kita jadi kurang berpikir.” Berpikir disini berarti memanjangkan jarak pandang kita terhadap suatu isu. Sebab boleh jadi kita terlalu diributkan kesetaraan yang dibangun oleh lingkungan sosial kita, kita jadi menampilkan hal-hal yang kita ingin terlihat seperti apa yang ingin mereka lihat dikita, bukan sebagai kejujuran atas apa yang memang kita miliki dalam diri. Hehe. Aneh ya. Saya pun, dibeberapa kesempatan tidak ingin salah kostum, contohnya. Ketika saya saltum disuatu event saya memiliki rasa malu dengan porsi yang bisa sedikit, bisa juga banyak.

Saya jadi bertanya, jadi kebebasan itu mau kita apakan sih?

JJ. Rosseau lebih menggugah hati dalam kritiknya terhadap Sains dan Seni  (Discourse of Art and Science) dan saya akan mengutip apa yang dosen saya sampaikan disini :

“Art and Science covered up our oppression. They disguise our oppression. That’s what they do. They make us forget that we’re not free. Even worse, they make us love our slavery. Because art and science create new needs, new forms of dependence. New vulnerability, new dependencies is a form of degradation, not progress.”

Kembali lagi ke dekadensi dan nihilisme pasif Nietzsche. Disaat yang sama, saya berpikir mungkin jika hidup dalam tahun yang berdekatan, N dan JJR akan main bola bareng sedangkan Kant duduk dipojokan sambil makan kue (Kant still wants to have the cake and eat it) dan dari dimensi lain ada seorang gadis yang nonton mereka dari luar lapangan mengamati bagaimana bola dioper dengan kaki-kaki lincah mereka, beberapa kali hampir menggolkan gawang lawan, ketika gagal mereka saling mengumpat sengit namun permainan tersebut dilanjutkan dan tanpa sadar bola tersebut ditendang keras sampai keluar gawang dan mengenai hidung gadis yang datang dari dimensi lain tadi sampai mimisan. End.

Dilihat lewat kacamata kenegaraan (jika saya boleh bilang begitu) (sebetulnya saya tidak bisa bilang saya peduli atau tidak peduli) (disini kamu bisa ibaratkan saya dengan metafora Kant – i still want to have my cake and eat it) : We exchange our freedom for security. Seolah-olah ia memperburuk keadaan bebas – tidak bebas kita yang dilingkungan sosial. State ini malah jelas-jelas memelihara kelas-kelas agar tetap berada ditempatnya masing-masing. Kalo kamu nonton film In Time, dan sadar bahwa Justin Timberlake secara tak langsung menunujukkan sebuah perlawanan kelas dan revolusi, hal tersebut betul-betul bin majikal. So, how can i change this world? By thinking and linking this ideas to action.

Okay, action bisa jadi konsep yang lain dan kita ngobrolnya uda terlau kemana-mana, tapi sebagai kelas yang berada ditengah (atau saya bisa bilang saya kelas yang loncat-loncat) kita betul-betul menjadi motor seimbangnya dua lapisan diatas dan dibawah kita. Bukan hal yang aneh lagi jika kita melihat ada lapisan yang sengaja dijadikan bahan bakar saja. Dan anehnya, hal seperti ini, alienation that happened in our society, hanya berbeda latar belakang histori. Konsep dimana “What is animal becomes human and what is human becomes animal” (Marx) itu tetap ada. Kita merasa bebas (justru) ketika kita melakukan fungsi biantang kita, makan, minum, ngeseks, dll. Namun ketika kita bekerja, memanusiakan diri kita, kita tidak bisa melihat refleksi diri pada pekerjaan yang kita lakukan. Sehingga dalam segelintir kasus, timbul pertanyaan ini, “Aku ngapain sih?”.

Sempat kepikiran juga kekuatan macam apa yang menafkahi semua ini. Simple, ada yang baik dan ada yang jahat. Keluar dari nature laws, yang tak terlihat ikut campur nggak sih melihat ketidakseimbangan yang sudah dipercayai sebagai keseimbangan ini? It feels like the more we work, the more we see everything, yet nothing.

“Because it’s inequality that makes us more and more stranger to one another. It’s inequality that creates a dynamic that’s not based in self preserving and compassion. It’s inequality that actually creates a dynamic of further and further separation of human beings from one to another and also increases our, satisfaction of seeing other people, suffer”

(Seperti yang disampaikan dosen saya di kelas online, menanggapi The Origins of Inequality – J.J. Rosseau)

Momen ketika saya hampir selesai menuliskan apa yang ada didalam kepala saya, saya melihat pintu yang dibuka sebagai representasi solusi. Ruangan selanjutnya adalah kegelapan dan kita hanya memiliki lilin dengan api gratis yang bisa mati kapan saja. Kita primitif, tidak ada korek, yang ada hanya bebatuan untuk digesek dan inisiatif kita untuk menghadapi chaos dalam ruangan tersebut. Kita bisa berlari dan menabrak sesuatu meskipun akan lebih cepat sampai, atau kita bisa berhati-hati seraya lilin mati ditengah jalan sebelum menuju pintu selanjutnya. Pintu itu tidak akan habis. Dan kita tidak pernah tahu darimana ruang ini lahir, diadakan, dan atas dasar apa, sebab terlalu banyak definisi. Saya masih berada disuatu ruang. Membawa cahaya kecil, memakai jaket tanpa pelindung lain. Kaki saya basah menginjak kotoran dan tanah becek. Kemudian lilin itu saya arahkan ke samping, disana ada mayat, dan ada manusia lain yang hidup, dia sama seperti saya, hanya lebih tinggi dan seorang lelaki, dia tidak mengenakan jaket, penisnya mengkerut karena dingin dan dia kehilangan satu puting susunya. Saya turunkan lilin itu setar pusar. Disamping kiri saya ada aroma manusia lain, dia seperti saya, mengenakan jaket, namun tak memiliki rambut. Dan saya sadar, kami semua telah kehilangan sesuatu yang pernah penting sekali. Dan dipintu-pintu selanjutnya kami akan terus kehilangan, hingga tak memiliki apa-apa. Eksistensi 0.

Death is the only absolute freedom.

***


Taking Care

Semarang, 1 Juni 2013, 16:45

Tulisan ini saya persembahkan untuk kamar saya yang baru saja dirapikan, untuk majalah dan buku kecil, besar, untuk catatan-catatan didepan saya dengan kertas warna kuning, untuk tip-tap suara keyboard yang sedari malam menyala bergerak, untuk kripik jagung dan susu kotak yang saya beli dengan harga terjangkau, dan untuk sebatang rokok yang baru saja habis, tak masalah apakah kalian merokok juga atau tidak, kalian tetap istimewa untuk saya.

Semalam, saya mendapati adik berkeluh kesah tentang sekolahnya, dia menjelang remaja umurnya 11 tahun lebih sedikit dan saya bisa memahami gundah yang ia rasakan terhadap lingkungan teman, berikut pelajaran-pelajaran lain yang sering menjadi alasan tak bisa tidur nyenyak. Sebagai kakak, saya katakan padanya “Kamu tahu ngga kenapa hidup itu aneh?” | “Enggak, kak” | “Karena setiap kamu habis bertengkar sama temen-temen kamu, kamu pasti baikan lagi” | (Tertawa kecut) | “Dan mau tahu yang lebih aneh apa?” | “Apa?” | “Dan akan terus seperti itu, bertengkar, baikan, bertengkar, baikan.” | (Tertawa kecut sekali) | “So, because this life is weird. Dont your worry about a thing.” | Dan kami tertawa sambil peluk-pelukan.

Life is weird, betul. Therefore, saya ingin menyampaikan pada adik saya yang meskipun terlihat begitu dini untuk membicarakan anehnya kehidupan, namun saya yakin inilah yang akan dia ingat sampai dewasa nanti dan dia sudah memasang  kuda-kuda sederhana untuk menghadapi kemungkinan yang akan membuat dia kecewa atau bangga. Tersebab hubungan kami yang begitu dekat, saya merasa memiliki tanggung jawab sendiri sebagai bagian dari keluarga.

Percakapan itu terasa begitu lekat sampai keesokan harinya saya merasa punya sedikit semangat untuk menata kemar, tempat dimana saya menghabiskan 20 jam dari waktu saya dan 4 jam yang lain sekedar keluar rumah, mencari sarapan, melihat lapangan di belakang bangunan yang setengah areanya sudah akan dibangun rumah lain, dulu saya biasa menyematkan pandang ke lapangan itu, saya bisa melihat kunang-kunang saat hari menjelang malam, suara jangkrik keras-keras tak mau kalah dengan mesin di jalan raya depan, dan rumput lembab yang tinggi dihiasi bunga kecil warna kuning lengkap dengan capung, kupu-kupu, kelelawar yang tersesat saat siang, celurut, luing, dan bata-bata yang tak sempat dicat karena bagian dari sisi belakang bangunan terlihat begitu kesepian dari lapangan itu. Lapangan yang kini sudah ditimbun sampah dipojok-pojoknya, beberapa area rumput terbakar dan kelak diisi oleh tempat tinggal sebuah keluarga bahagia dengan anak-anak baru dan suami istri yang saling menautkan perhatian pada tetangga sebelah.

Tapi saya melihat hamparan tanaman basah itu dari atas, sebuah beranda kosong dengan pagar-pagar yang memiliki sekat untuk mata saya mengintip sambil berjongkok, atau sekedar duduk, menghirup udara dan melepaskannya lagi dengan setia.

Kemudian diantara kamar yang kini lebih rapi, disatu sudutnya saya letakkan zine-zine cantik yang saya dapatkan dari banyak tempat, bertukar, membeli, get free, atau to be honest pinjam dan nggak dikembalikan x)) *maaf*.

Saya senang menjadi bagian dari kertas-kertas sederhana ini, didalamnya penuh pengetahuan, opini yang relevan, opini yang bersinggungan, cerita personal, kumpulan besar perasaan bagai kesedihan, kebahagiaan kecil yang menari-nari dikepala saya tiap kali saya baca, therefore, saya katakan pada diri saya bahwa “buku-buku” ini layak mendapat perlakuan baik dari kita yang memilikinya sebagaimana dia telah memberikan kita pengetahuan lintas entitas.

Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. (Wikipedia)

It’s not about the definition that matter most but paling tidak kita memiliki toleransi, empati untuk merawat apa-apa yang telah memberi kita hal baik sehingga kita bisa bertahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari lemah menjadi kuat (dalam kasus ini karena membaca) dan bukankah tak akan rugi memberi sedikit tempat yang nyaman bagi lembaran halaman ini seperti mereka memberi nafas untuk ruang dan jeda informasi dikepala kita?

Namun, mengapa zine atau buku-buku tersebut penting? Well, it’s okay too if you don’t feel any related with this things, but here i wanna say, (quoting what my lecture said in Coursera).

“Writing is a technology.”

“If you want to effect a wider group, don’t rely on a voice, but rely on writing, so the wider group can receive copies of what’s written. Copies can go forward and backward through time. And writing is a crucial technology. Language is crucial for establishing social relations, writing is crucial for widening those social relations.” – Eric Rabkin.

Maka saya percaya, tersebab tulisan yang ada didalam zine / halaman buku mengandung kekuatan tak terlihat, dan menulis, menggambar, menggabungkan pemikiran berbagai indera, memerlukan kolaborasi yang kadang sulit diterjemahkan lewat bahasa dari penggeraknya langsung, therefore lembaran-lembaran tersebut patut kita apresiasi. Sedikit dari yang kita lakukan bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain pun bagi kelangsungan sebuah peristiwa baik.

Jadi, selamat membaca, selamat merayakan kesenangan dengan zine dan bukumu, selamat melihat bintang, selamat melihat layang-layang, mari kita merawat segala yang telah memberikan energi yang membahagiakan ;) /love.

How To Be Alone

[Tanya Davis]
If you are at first lonely, be patient.

If you’ve not been alone much, or if when you were, you weren’t okay with it, then just wait. You’ll find it’s fine to be alone once you’re embracing it.

We can start with the acceptable places, the bathroom, the coffee shop, the library, where you can stall and read the paper, where you can get your caffeine fix and sit and stay there. Where you can browse the stacks and smell the books; you’re not supposed to talk much anyway so it’s safe there.

There is also the gym, if you’re shy, you can hang out with yourself and mirrors, you can put headphones in.

Then there’s public transportation, because we all gotta go places.

And there’s prayer and mediation, no one will think less if your hanging with your breath seeking peace and salvation.

Start simple. Things you may have previously avoided based on your avoid being alone principles.

The lunch counter, where you will be surrounded by chow-downers, employees who only have an hour and their spouses work across town, and they, like you, will be alone.

Resist the urge to hang out with your cell phone.

When you are comfortable with eat lunch and run, take yourself out for dinner; a restaurant with linen and Silverware. You’re no less an intriguing a person when you are eating solo dessert and cleaning the whipped cream from the dish with your finger. In fact, some people at full tables will wish they were where you were.

Go to the movies. Where it’s dark and soothing, alone in your seat amidst a fleeting community.

And then take yourself out dancing, to a club where no one knows you, stand on the outside of the floor until the lights convince you more and more and the music shows you. Dance like no one’s watching because they’re probably not. And if they are, assume it is with best human intentions. The way bodies move genuinely to beats, is after all, gorgeous and affecting. Dance until you’re sweating. And beads of perspiration remind you of life’s best things, down your back, like a book of blessings.

Go to the woods alone, and the trees and squirrels will watch for you. Go to an unfamiliar city, roam the streets, they are always statues to talk to, and benches made for sitting gives strangers a shared existence if only for a minute, and these moments can be so uplifting and the conversation you get in by sitting alone on benches, might have never happened had you not been there by yourself.

Society is afraid of alone though. Like lonely hearts are wasting away in basements. Like people must have problems if after a while nobody is dating them.

But lonely is a freedom that breathes easy and weightless, and lonely is healing if you make it.

You can stand swathed by groups and mobs or hands with your partner, look both further and farther in the endless quest for company.

But no one is in your head. And by the time you translate your thoughts an essence of them may be lost or perhaps it is just kept. Perhaps in the interest of loving oneself, perhaps all those “sappy slogans” from pre-school over to high school groaning, we’re tokens for holding the lonely at bay.

Cause if you’re happy in your head, then solitude is blessed, and alone is okay.

It’s okay if no one believes like you, all experience is unique, no one has the same synapses, can’t think like you, for this be relieved, keeps things interesting, life’s magic things in reach, and it doesn’t mean you aren’t connected, and the community is not present, just take the perspective you get from being one person in one head and feel the effects of it.

Take silence and respect it.

If you have an art that needs a practice, stop neglecting it, if your family doesn’t get you or a religious sect is not meant for you, don’t obsess about it.

You could be in an instant surrounded if you need it.

If your heart is bleeding, make the best of it.

There is heat in freezing, be a testament.

Sartre dan Sahabat Bernama Insomnia

Beranjak beberapa halaman, hingga nomor 42 singgah di mata.

Rimba kata-kata Sartre betul membuat saya tersesat, jika diibaratkan seluruh alter ego pun duduk untuk melakukan pekerjaan membaca yang sama. Kanan, kiri hanya ada saya yang lain, kami sibuk mengulik pesan-pesan panjang dan ringkas, membolak-balik halaman bergambar dan halaman murni teks, untuk menyetubuhi satu orang, Sartre. Sepertinya, layak dibilang saya keburu tak sabar untuk menuliskan kembali pengalaman dan rindu saya bertemu dengan literatur macam ini, berhenti-berhenti karena perasaan sudah overdone duluan, jika tak segera diterjemahkan dalam tulisan maka begitu saja ia akan menghilang secepat kita mengganti halaman.

Kegalauan intelektual yang saya dan orang terdekat saya rasakan akhirnya dipertemukan lewat perantara buku, kami bertukar, buku-buku sosial kenegaraan murni kurang menarik minat saya, dan ia kebingungan membaca kalimat-kalimat filsuf Perancis yang snob. Saya beri ia buku yang juga merupakan warisan dari pemilik yang sama dengan buku yang ia berikan kepada saya untuk dibaca. Kami bersinggungan secara tak langsung lewat subyek, obyek disekitar kami, dan kami tak menyadari hal tersebut sampai barusan.

Pagi ini, kamar saya dihiasi gaung-gaung hebat nan gentle dari Husky Rescue. Menambah khusyuk pengembaraan saya seorang diri pada rak-rak kalimat yang disusun rapi dan sedemikian rupa.

Sleep tight tiger sweet dreams till tomorrow
I’ll be teardrop in your pillow the beautiful sorrow
I love you like I do in the noon
I am the shadow on your skin and I’ll be gone very soon

Ini pun merupakan hadiah sebab hari itu siang tak menampakkan tanda tak akan hujan, sambil terdampar pada perasaan setelah make out di sofa, lagu ini begitu saja terputar dari samping telinga saya, merasuk, dan membekas sebab diberitahukan dengan baik {yang kemudian saya berpikir bahwa memberitahu orang lain tak melulu keras pelannya suara kita saat bicara, tapi bagaimana kita membungkus pesan, dan rasa dengan seksama, seperti yang dikatakan Sartre soal kakeknya Charles, “dia berkesimpulan bahwa sudah saatnya aku diberi tahu dan dia memberi tahu dengan sedemikian baik sehingga bekasnya terasa sampai sekarang” ( 42, 2009)}

Beberapa sudut atas kertas saya tekuk kecil untuk memberi tanda bahwa ada pesan yang saya cari disitu, saya kehilangan pembatas buku, namun ada pick-gitar tak sengaja terselip kemudian terbawa sebagai gantinya, paling tidak saya ditemani oleh satu patahan yang mewakili diri seseorang dalam penantian bertemu.

Mundur beberapa moment, Sartre menceritakan kecintaan yang besar terhadap perpustakaan.

“..Aku tidak pernah menggaruk-garuk tanah atau mencari-cari sarang burung; tidak pernah juga aku menanam apa-apa atau melemparkan batu kepada burung. Buku-bukulah yang menjadi burung dan sarangku, binatang piaraanku, kandang berikut seluruh dunia pedesaanku.”

 “..Berbaring di permadani, aku melakukan perjalanan-perjalanan yang melelahkan ke tengah karya-karya Fontenelle, phanes, dan Rebelais: kalimat-kalimat yang membangkang terhadapku seperti benda-benda hidup; mereka harus kuamati, kukelilingi, pura-pura kujauhi, dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka disaat lengah: pada umumnya kalimat-kalimat itu tidak membuka rahasia dirinya.”

Jika Linus harus jatuh ke selimut kucelnya, maka that thing to soaked up my fear and frustration adalah buku. Tempat berpaling dari hingar bingar dunia yang menyakiti, tanpa pernah tahu dan harus merasa tertinggal, saya bisa meletakkan lelah pada buku, dari dongeng sampai literatur dengan deret abjad yang padat, membawa saya naik turun seperti roller coaster, kadang diiringi lagu maupun film. Menjembatani kesendirian dan ketakutan saya yang tak bisa dipanggil untuk tunduk. Barangkali buku adalah tempat paling (ny)aman untuk bersembunyi…

_____________________________________________________________________________________

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­

Di pagi berikutnya, saya membaca sambil menyempatkan self-massage selama 15 menit. Didekat teras dibawah matahari pukul 10 sebelum berangkat ngantor, adalah momen dimana ide yang turun ke partikel-partikel tubuh memanggil dengan kekanakkan, dimana saya merasa menjadi ibu juga, untuk artificial children ; dan keterpanggilan. Sedangkan cuaca hati sedang tak terlalu memenuhi kuota untuk bisa menembus “Splendid Tuesday” (haha) sudahlah, saya katakan sekali lagi pada diri saya disamping merasa menjadi begitu naif, ini hanya roman. Kau seharusnya tahu, tak banyak yang bisa diharapkan, begitulah, harapan memangku tanggung jawabnya sebagai patahan ekor angsa, dan mata pisau yang berkilat-kilat, tidak menghunus namun melukai tepi kulit. Sisanya perih, dapat diobati namun menyisakan keloid jika lukanya agak dalam.

(Maka dari itulah, masa depan, harapan, dan Tuhan memiliki similaritas yang berhasil membuat kita dongkol dengan segala abstraksinya.)

Paling tidak, Eric Satie punya cara untuk memandu kita menjalani segala ketidakenakan hari, merasa diangkat derajatnya sedikit, mundur beberapa dekade, yang semakin meyakinkan saya ; saya terlalu kuno untuk hidup diera macam ini, semua hal fisik yang masih saya pertahankan sampai sekarang tak menyiratkan saya bisa sukses menjadi bagian dari modernitas, meskipun saya sebenarnya sudah menjadi bagian dari modernitas itu sendiri, dan masih nulis blog (to be exact) :p

10:01

Sambil makan keripik singkong yang manis dan enak, saya menulis (ketika saya menulis) halaman 88.

Berhenti sambil terkatung melihat langit-langit. Memikirkan yang tersirat dalam buku, hamparan tembok di atas begitu luas, saya tiduran didekat meja dengan kasur yang bisa dilipat menjadi sofa. Di pertengahan buku (jika betul ini pertengahan karena tak pernah mempertimbangkan halamannya) kalimat demi kalimat semakin berantakan, twisted di kepala, seperti rangkaian lego yang minta disusun menjadi pesawat, sebetulnya dia sudah teratur, namun ada konstruksi yang mesti kita ikuti dari awal, terpeleset tidak apa-apa paling hanya keseleo. Untuk kali ini, pada halaman yang kesekian Sartre betul-betul membuat saya melamun memikirkan khayalannya sebagai anak dan hari yang begitu kini.

(Jeans saya yang enak dipakai, dan bibir yang minta dikecup, atau haruskah tidur-tiduran saja sambil mengamati rusuk seorang kawan yang dengan teguh singgah dimata)

Tidak bisa tidur, ternyata bukan masalah substansi apa yang kita konsumsi, saya tidak punya rokok untuk dinyalakan saat subuh, membuat saya merasa tak berkawan. Dan sleeping disorder dimana saya jumpai mimpi buruk dengan pola yang sama membuat saya insane, mau marah namun pada alam bawah sadar, jadi saya harus melakukan terapi macam apa lagi? (L)

Peningkatan irrational anxiousness mendadak saat saya cek follower di twitter saya yang sering rusak. Disanalah saya jumpai tanggal-tanggal lama yang beberapanya sudah kadaluwarsa, saya temui suara-suara dari luar kamar, dan akun dari kawan yang telah tiada, saya merasa takut melihat terlampau jauh dan saya paham ketakutan saya jarang terbukti, tak pernah seburuk yang saya bayangkan, namun mengapa saya tak bisa membangun batasan yang bisa saya gunakan sebagai  buku pedoman ”saya harus sampai sini, lantas mengetahui bahwa untuk memasuki teritori lain butuh perundingan terlebih dahulu”  jadi meskipun telah menenggak obat tidur saya tak kunjung menemui profound sleep, saya rindu tidur enak.

(Terbayang punggung berlekuk, tidur dengan bantal ditekuk lantas melipat i love you dalam mangkuk)

Image

Kata-Kata Sartre, kesan pertama, proses dan penghabisan dalam tiap pijar bergambar (1)

Saat membaca Satre, Voltaire disebut dalam salah satu paragraf yang lantas menimbulkan decak “puff” ! pada bibir saya, seperti perasaan Aschenputtel yang menyaksikan ibu peri berteleport dan kembali dalam sekian detik untuk mengabulkan keinginan-keinginan terpendam. Sebelumnya saya tak menyangka tulisan Sartre akan serenyah ini, dalam beberapa alinea akan kita temui bagaimana perasaan bosan dan sayang saat ia menceritakan bagian-bagian keluarga, in other part we can see narsistik masa kanak-kanak dan kebanggaan yang ia pelihara sampai remaja, guyonannya yang berlekuk namun tegas tentang penetrasi orang-orang dewasa yang ia cermati, baiklah saya pikir Simone De Beauvoir layak untuk menyimak dan menjadi rekan Sartre dengan segala remah puitis dan kritisnya.

Saya punya malam minggu yang hangat dengan Sartre.

Di halaman 15 dalam terjemahan bahasa Indonesia, Sartre menceritakan hubungannya yang manis dengan sang kakek yang memiliki kumis bagaikan sungai seperti Victor Hugo, sembari menceritakan dengan manis, saya menanamkan bayangan-bayangan yang membentuk pibadi mereka dalam kepala, begitu samar…

“Kami berdua senang memainkan komedi besar dengan ratusan sketsa adegan : taksir menaksir, salah faham yang cepat teratasi, godaan-godaan kecil yang enteng, kemarahan-kemarahan tak serius, kekesalan cinta, sembunyi-sembunyi mesra, dan cinta yang tak terbatas.. “

To be honest, selama saya menjadi cucu dari kakek dan nenek yang lengkap, saya belum dan barangkali tak akan pernah mengalami hal similar seperti yang tercontoh di atas, jadi entah Sartre atau penulis lain yang mengisahkannya, saya akan merespon hal yang sama :p (setau saya) kakek adalah seorang Kepala Sekolah yang memperistri nenek, saya bahkan tak tahu nama lengkap nenek dan darimana ia berasal, kakek dan nenek yang lain adalah petani dan pedagang, selebihnya saya pun tak begitu paham, kami tak pernah bercerita ataupun membagi hal-hal yang menyenangkan selain pertemuan penuh formalitas dan rasa sungkan sebagai bagian dari acara keluarga.

(Sebentar, saya melamun..)

Dan barangkali juga banyak dialami oleh remaja-remaja seumur saya yang lain. Kami tak punya cerita dengan keluarga yang lebih tua.

__________________________________________________________________________________

Mengiyakan apa yang diyakini Charles, “Meditasi puitis lebih unggul daripada falsafah hidup” . Sartre menyepelekan sikap kakeknya saat tertawa pada lompatan-lompatan konyol yang ia buat, sampai akhirnya Sartre menyadari bahwa hal tersebut adalah bukti sebuah isyarat maut yang mendekat. Bagi saya, segelas insekuritas sudah cukup membuat seseorang (i.e. me) melakukan hal yang sama seperti Charles meskipun tak melulu maut. “..Charles melawan kecemasan dengan selalu berusaha mengagumi sesuatu. Bila dia mengagumi diriku sebagai buah unggul sang bumi, itu hanyalah melawan untuk meyakinkan diri bahwa semua pada umumnya baik, termasuk kematian kita yang memilukan. Alam yang siap merenggutnya itu, dicarinya pada puncak gunung-gunung, alunan gelombang, di antara bintang-bintang, sumber kehidupan baru padaku, agar dia mampu merengkuh alam dengan lebih bermakna, dan menerima segalanya dari semesta, seraya menantikan lahat yang sedang digalinya”. Sesaat saya merasakan betapa sepi perasaan yang coba disampaikan Sartre saat ia menangkap epiphenomena kesan dari Charles setelah ia dewasa.

Halaman 18 saya buka lagi setelah mencari makan diluar, dibawah hujan dengan penerangan yang tak terlampau banyak, semangkuk mi rebus dengan kuah yang enak ditambah telur yang sudah tercacah-cacah dengan matang dan rapi, saya sampai lupa bahwa ini hari Sabtu. Hari dimana para pekerja merayakan ibadah libur satu hari pada rimba aktualisasi diri. Ah, barangkali bekerja memang masih belum sepenuhnya bisa disinkronisasikan dengan berkarya, orang-orang menuntut hak mereka, melancarkan protes, namun selama pembuat peraturan belum digulingkan oleh ketamakannya sendiri, saya tiba-tiba saja lahir sebagi seorang pesimis. Entahlah perasaan ini sama atau tidak dengan apa yang Voltaire coba sampaikan di halaman terakhirnya pada buku Optimisme Hidup soal ut operaretur eum –sehingga dia (manusia) bisa bekerja, thus manusia bukan dilahirkan untuk menganggur.

(Suasana disini, seperti layaknya ruang keluarga, meskipun saya bersama orang lain. TV dinyalakan, saya menulis sambil mendengarkan lagu, orang disebelah saya bersenandung dengan petikan-petikan gitar, lampu ruangan yang lain mati, kami sibuk dengan kesimpulan masing-masing, namun ia letakkan kepala di punggung saya untuk memberi tanda bahwa kami sama-sama tak menghabiskan malam ini sendiri.. Home is where your heart is). Banyak hal yang menemani perjalanan membaca saya kini, di awal paragraf yang lain, yuk kita lanjutkan lagi!

“Kehidupanku telah kuawali seperti rupanya aku akan menutupnya : di tengah buku-buku.” – Sartre.

Rumah Sakit dan Sisa-Sisa Voltaire di Kepala.

“Buka matamu, lepaskan rasa. Berbalut semu, dalam dirimu..”

Siang ini di kantor, setelah beberapa minggu tak sempat menulis karena sibuk membuat Au Revoir zine #4 dan farewell party teman-teman dari Ukraina, saya duduk begitu tenang dalam vokal lawas Andri. Agitasi dari orang dekat saya yang juga berkecimpung lama di musik lokal untuk mendengarkan lebih banyak lagu-lagu menenangkan macam ini memang tak saya pungkiri lumayan mengangkat stabilitas emosi ke level medium, tambahan lirik dengan beat-beat yang masih gloom setidaknya menambah sudut pandang saya dalam melihat keramaian dan kesepian. Saya tak pernah berpikir untuk jatuh lebih jauh, karena memang hanya ingin menggambar, tapi kemudian saya lupa untuk menjalin komunikasi yang sedikit lebih intens pada dunia luar, saya memiliki daerah saya yang begitu intim dan virtual. Entahlah, barangkali insecurity sudah menjajah setengah hati saya dengan sukses dan habis-habisan. Setelah patah hati apalagi, well Annik Honore tapi tetap jadi favorit saya kok :p

Dengan sweater biru dan rambut yang lumayan ringan, saya mencoba mengingat perasaan lain yang bisa saya tuliskan setelah lelah berlarian dari satu orang ke orang lainnya. (“Bawalah aku…”)

Setiap warna yang saya kenakan barangkali menyiratkan pesan yang saya ingin sampaikan secara tak sengaja, gesture yang pelan namun menghentak pada beberapa sisi tanpa diminta, hangatnya tangan dan dinginnya punggung beranjak ke mata, meskipun dengan baju, namun lawan bicara yang tepat tahu, ada seorang perempuan telanjang didepannya, membacakan puisi dan mengaduk susu yang diberi manisan strawberry.

Begitulah, 244 halaman Candide – Voltaire selesai dibaca. Translove mendadak memutus sambungan jarak dan ruang yang pernah ditulis dalam seikat bahasa, antara pesimis dan optimis hanya batasan yang meragukan, kau dan aku tetap berpelukan, dipergelangan kau letakkan gelang dan jam tangan, dijemari hanya bisa kuselipkan halaman dan mimpi. Diantara lensa yang menyekat mata, singgah dengan jelas suara, dan tawa.
Barangkali ini saatnya memisahkan tiap instrumen pengiring hari, pesan-pesan canggung yang belum sempat kita selesaikan dan senyum-senyum merekah setelah selesai bersentuhan.

Voltaire begitu padat merangkum tiap judul. Lega,sepertinya (entahlah) perasaan macam ini harus mengalami evolusi ataupun direvolusi, hidup memang dibentuk untuk mengecewakan manusia, “Selusin penjudi murung memegang di depan masing-masing dalam tangannya beberapa kartu -sekumpulan pemurung dan pemimpi mendaftarkan kemalangan mereka” (158, 2009). Kurang lebih begitulah bagaimana manusia berbondong-bondong menyambut semangat yang tanpa mereka ketahui adalah kemutlakan untuk menyelesaikan jawaban yang tak pernah memuaskan. Namun setelah mereka mulai menandai hati mereka dengan sinyal untuk tak terlalu riang, kemudian jatuh dalam ruang-ruang yang murung, kita terlalu takut mati yang menandakan kita jugalah pihak-pihak yang demikian mencintai kehidupan itu sendiri. Beberapa saat ingatan saya jatuh pada ringannya Sartre menceritakan lekuk-lekuk konflik saat ia masih kecil, lalu ditarik ke lagu yang saya putar, ke buku yang saya baca, ke layar dimana saya letakkan lamunan saya, ke suara antara jemari dan keyboard, ke angka yang menunjukkan pukul berapa sekarang, apakah saya harus pulang atau tetap melanjutkan petualangan hari, ke kesedihan kecil yang saya pelihara, dan berhenti pada aksara-aksara serupa sungai pada kumis Victor Hugo. Bukan begitu? :)

Pangloss mungkin menyedihkan, namun dari sedemikian banyak kebaikan yang ia amini, hanya satu yang lantas membuat saya diam lalu menarik dua lapis bibir masing-masing ke kiri dan kanan, “…Lagipula aku adalah seorang filsuf. Aku tak mungkin melawan diriku sendiri”. (224, 2009) Sekilas, saya merekam sosok Candide seperti Adam Ewing (Jim Sturgess, Cloud Atlas) dengan perawakan muda, elok, berkulit putih dan penuh gairah yang tersembunyi, cukup pintar dan mau berusaha, namun rapuh di banyak sisi. Setiap karakter mewakili betapa tebal satire yang coba disamarkan Voltaire. Namun ending yang indah dan mereka yang kemudian memutuskan untuk berdamai dengan keadaan dengan tidak memperdebatkan pekerjaan mereka, terasa “Well, it happens here and there” :p But overall, i would give 7,6 to 10.

All in all, saya sedang melancarkan sebuah levitasi vertikal dari Rumah Sakit ke OK Karaoke. Selamat sore!

CandideJourney